Kabut Asap Pagi Hari Jadi Perhatian, Aktivitas Sekolah di Kukar Ikut Disorot

DIALEKBORNEO.COM – Saat sebagian warga mulai meninggalkan rumah untuk bekerja, kabut masih menggantung di sejumlah kawasan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pemandangan itu kembali terlihat pada pagi hari di Kota Bangun, Muara Wis, dan Muara Muntai.

Di tengah kabut yang belum sepenuhnya menghilang, aktivitas masyarakat tetap berjalan. Anak-anak juga tetap bersiap menuju sekolah dan menjalani kegiatan belajar seperti hari-hari biasa.

Kondisi tersebut membuat kualitas udara menjadi perhatian tersendiri. Sebab, anak-anak merupakan kelompok yang harus tetap menjalankan rutinitas di luar rumah meskipun kabut asap masih terlihat.

Anggota DPRD Kukar Daerah Pemilihan (Dapil) VI, Sopan Sopian, meminta kondisi tersebut tidak dianggap sebagai gangguan biasa. Menurutnya, keadaan udara perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan aktivitas masyarakat pada pagi hari.

“Ketika kabut masih menyelimuti lingkungan, aktivitas di luar rumah sebaiknya dikurangi, terutama bagi anak-anak yang harus berangkat dan mengikuti kegiatan sekolah,” kata Sopian.

Ia menilai persoalan tidak berhenti pada perjalanan siswa menuju sekolah. Ketika kondisi udara memburuk, kegiatan pembelajaran di luar ruangan juga perlu diperhitungkan agar siswa tidak terlalu lama terpapar kabut asap.

Karena itu, Sopian mendorong Disdikbud Kukar menyiapkan pilihan pembelajaran yang dapat menyesuaikan keadaan. Sekolah, menurutnya, tidak harus memaksakan pembelajaran tatap muka ketika kondisi udara sedang tidak mendukung.

“Kalau kondisi di luar sudah tidak memungkinkan, pembelajaran bisa sementara dilakukan dari rumah. Yang penting kegiatan belajar anak tetap berjalan,” ujarnya.

Pembelajaran dari rumah juga perlu diikuti dengan tugas atau kegiatan akademik lainnya. Dengan begitu, siswa tetap mempunyai rutinitas dan tidak menganggap perubahan kegiatan sekolah sebagai waktu libur.

Sopian mengatakan keputusan terkait kegiatan belajar sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan kondisi satu wilayah. UPT Dinas Pendidikan dapat berkoordinasi dengan sekolah untuk melihat situasi udara sebelum menentukan pola pembelajaran.

Menurutnya, setiap wilayah bisa memiliki kondisi kabut yang berbeda. Karena itu, langkah yang diambil juga dapat disesuaikan dengan keadaan masing-masing sekolah dan lingkungan sekitarnya.

“Yang kita jaga bukan hanya kehadiran siswa di sekolah, tetapi bagaimana mereka tetap belajar tanpa harus mengorbankan kondisi kesehatan,” katanya.

Perhatian tersebut menjadi semakin penting apabila kabut asap muncul berulang pada pagi hari. Sebab, waktu tersebut bertepatan dengan perjalanan siswa menuju sekolah dan dimulainya berbagai aktivitas masyarakat.

Sopian berharap kondisi tersebut tidak membuat proses pendidikan terganggu dalam waktu lama. Jika pembelajaran harus dilakukan dari rumah, sekolah tetap diharapkan memberikan kegiatan yang terarah kepada siswa.

Di luar persoalan pendidikan, masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi tubuh ketika harus beraktivitas di tengah kabut. Aktivitas di luar rumah dapat dikurangi apabila kondisi udara semakin pekat.

“Kita perlu mengambil langkah sebelum dampaknya semakin terasa. Jangan sampai anak-anak justru jatuh sakit atau mengalami kelelahan karena terus beraktivitas di tengah kabut,” pungkasnya. (*)

Tags:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version