Zurkarnain Siapkan Struktur Kabinet Baru Presma Unikarta

DIALEKBORNEO.COM – Presiden Mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Zulkarnain, menegaskan bahwa langkah fundamental awal kepemimpinannya adalah pembentukan kepengurusan kabinet yang mengedepankan sistem meritokrasi.

Menurutnya, setiap posisi kabinet akan diisi oleh individu yang memiliki kapasitas, pemahaman, serta kompetensi sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Ia juga menyebut akan ada pembaruan struktur organisasi dibandingkan periode sebelumnya, salah satunya dengan menghadirkan Menteri Kajian Strategis (Kastrat) yang secara khusus akan fokus pada isu hukum, politik, sosial, dan ekonomi.

“Yang menjadi langkah fundamental adalah pembentukan kepengurusan. Saya akan mengedepankan sistem meritokrasi, di mana posisi kabinet harus diisi oleh orang-orang yang paham dan mengerti bidangnya,” ujar Zulkarnain, Kamis (18/12/2025).

Lebih lanjut, Zurkarnain menjelaskan bahwa visi dan misi kepemimpinannya menitikberatkan pada tiga aspek utama, yakni pergerakan, inklusivitas, dan dampak sosial.

Terkait program kerja besar, ia menyebut pihaknya masih akan melakukan kajian mendalam sebelum menentukan langkah strategis yang akan diambil.

“Untuk saat ini, fokus kami adalah pembentukan kabinet dan persiapan pelantikan,” katanya.

Menanggapi dinamika dan konflik yang sempat terjadi dalam rangkaian musyawarah mahasiswa, Zurkarnain menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah dalam proses demokrasi organisasi mahasiswa.

Namun, ia menyayangkan adanya perusakan fasilitas kelas yang seharusnya menjadi ruang belajar dan mencari ilmu.

“Dinamika kemarin itu lumrah dalam musyawarah organisasi mahasiswa. Tapi yang saya sayangkan, ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat belajar justru dirusak,” ungkapnya.

Meski demikian, Zurkarnain berharap persoalan tersebut tidak lagi diperdebatkan dan tidak terus diungkit ke depannya karena berpotensi memperdalam perpecahan di internal mahasiswa.

Ia menegaskan untuk mengambil jalan tengah dalam menyelesaikan konflik, dengan merangkul seluruh pihak dan membuka ruang diskusi bersama.

“Saya akan mencoba merangkul semuanya, menyatukan dalam satu ruang diskusi, dan membahas bagaimana proses penyelesaian konflik ini,” tutupnya. (*)

Pos terkait