DIALEKBORNEO.COM – Ketua DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Ahmad Yani menyebut pesta budaya Erau dapat menjadi lokomotif pengembangan pariwisata sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Yani mengatakan, momentum Erau perlu dimanfaatkan secara kreatif oleh pemerintah kabupaten, masyarakat, dan stakeholder untuk meningkatkan kunjungan wisata serta menggerakkan perekonomian daerah.
“Salah satu destinasi wisata kita dengan adanya pesta Erau. Tinggal bagaimana kreativitas dari pemerintah kabupaten, masyarakat, stakeholder bisa memanfaatkan Erau itu,” kata Yani. (19/9/2026).
Menurutnya, Erau memiliki potensi ekonomi karena rangkaian kegiatannya tidak hanya berkaitan dengan adat dan budaya, tetapi juga menghadirkan pengembangan UMKM, festival, dan pertunjukan.
“Karena di sana ada pesta, ada Erau, ada perputaran ekonomi, ada pengembangan UMKM, ada festival, ada pertunjukan yang tentu kita harap melalui Erau itu mampu meningkatkan perekonomian daerah, terkhusus kunjungan wisata,” ujarnya.
Yani menilai Erau juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan Kukar kepada masyarakat Indonesia hingga mancanegara. Hal tersebut didukung oleh sejarah Kukar sebagai daerah yang memiliki peradaban dan kebudayaan.
“Bahwa masyarakat itu, masyarakat Indonesia, bahkan luar negeri mengetahui bahwa ternyata sebagai kerajaan tertua, sebagai daerah yang punya peradaban,” jelasnya.
Ia menyebut pelestarian adat dan budaya dapat dikembangkan menjadi kekuatan pariwisata sekaligus sumber perputaran ekonomi daerah.
“Tentu salah satunya adalah melestarikan adat budaya itu yang bisa menghasilkan dan bisa menjadikan lokomotif pengembangan pariwisata dan perputaran ekonomi yang kalau perlu menasional bahkan internasional,” tuturnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Yani menilai pengelolaan Erau perlu terus diperbaiki dan ditata. Menurutnya, pembenahan diperlukan agar Erau tetap menjadi pesta budaya sekaligus memiliki daya tarik wisata.
“Tinggal nanti pengelolaannya mungkin dimodel, diperbaiki, ditata ulang supaya itu betul-betul pesta itu yang sebagai peninggalan budaya,” katanya.
Yani juga mendorong adanya inovasi dalam pengembangan Erau. Inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, jumlah wisatawan, hingga perkembangan UMKM.
“Karena budaya itu adalah salah satu sumber daya yang kita miliki, itu kan harus dikembangkan terus. Harus ada inovasi-inovasi supaya lebih bisa menghasilkan dalam bentuk misalnya produktivitas, wisatawannya meningkat, UMKM-nya besar,” ujarnya.
Ia menegaskan dukungan APBD terhadap Erau harus menghasilkan dampak ekonomi yang kembali dirasakan masyarakat. Dengan begitu, anggaran pemerintah tidak hanya menjadi biaya pelaksanaan kegiatan.
“Tetapi dari hasil itu, itu menciptakan perekonomian baru. Jadi walaupun misalnya kita support menggunakan APBD, tapi itu juga kembalinya ke masyarakat dan itu lebih besar hasilnya dampaknya yang ditimbulkan dibanding uang yang dikeluarkan atau pengeluaran APBD,” ungkapnya.
Karena itu, Yani berharap Erau dapat menjadi bagian dari pembangunan kepariwisataan Kukar dengan melibatkan berbagai sektor.
“Jadi harapan kita bagaimana Erau ini terpelihara, terproduksi menjadi pengelolaan dalam bentuk peningkatan pembangunan terkhusus di kepariwisataan dan semuanya nanti akan melibatkan semua sektor,” katanya.
Ia juga mendorong keterlibatan perusahaan-perusahaan yang ada di Kukar dalam pelaksanaan Erau. Menurutnya, perusahaan dapat menjadi bagian dari sumber daya yang ikut mendukung pengembangan pesta budaya tersebut.
“Walaupun itu adalah Erau, tetapi geliat ekonomi termasuk misalnya melibatkan semua perusahaan-perusahaan yang ada di Kutai Kartanegara sebagai bagian dari sumber daya,” jelasnya.
Yani berharap seluruh stakeholder dan kemampuan sumber daya yang dimiliki Kukar dapat disatukan melalui Erau. Menurutnya, momentum tersebut dapat menjadi wadah untuk memperlihatkan kekayaan adat dan budaya daerah.
“Supaya bisa bersatu dan disatukan dalam wujud Erau bahwa Kutai Kartanegara punya adat budaya yang harus dikembangkan, yang harus dikembangkan, yang harus dilestarikan,” tuturnya.
Selain pengembangan pariwisata dan ekonomi, Yani menekankan pentingnya semangat berbagi dalam pelaksanaan Erau. Ia menyebut semangat tersebut harus dirasakan masyarakat melalui keterlibatan berbagai pihak.
“Apalagi judulnya berbagi itu artinya bahwa penguasa, raja, orang kaya, siapapun itu ya harus berbagi kepada sesama, kepada masyarakat, kepada rakyat. Bahwa itu adalah semangatnya berbagi,” ujarnya.
Karena itu, perusahaan maupun stakeholder yang memiliki kemampuan diharapkan dapat ikut memberikan manfaat kepada masyarakat saat pelaksanaan Erau.
“Perusahaan-perusahaan yang mampu atau stakeholder yang bisa berbagi pada saat Erau itu adalah menjadi bagian daripada judul Erau itu sendiri,” katanya.
Lebih lanjut, Yani menilai Erau perlu diperkuat melalui regulasi. Ia menyebut selama ini kegiatan tersebut masih diurusi oleh dinas tertentu dan belum diatur melalui peraturan daerah.
“Perlu sebenarnya karena selama ini kan kegiatannya kan hanya diurusi oleh dinas tertentu atau belum menjadi peraturan daerah,” ungkapnya.
Menurut Yani, pengaturan melalui peraturan daerah diperlukan agar Erau memiliki dasar yang lebih kuat sebagai pesta rakyat dan dapat melibatkan lebih banyak stakeholder dalam pembangunan daerah.
“Oleh karena itu kita nanti akan coba kuatkan bahwa Erau ini adalah salah satu pesta rakyat yang kira-kira memang menjadi keharusan dan tentu perlu diatur melalui peraturan daerah supaya lebih mengikat dan lebih memaksa orang-orang atau stakeholder yang berkepentingan dalam rangka menciptakan, menumbuhkan pembangunan melalui Erau itu,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan