IHSG Melemah 0,24 Persen, Pasar Mulai Lakukan Bargain Hunting

DIALEKBORNEO.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih ditutup di zona merah pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/9/2026). Meski demikian, tekanan terhadap indeks mulai mereda setelah IHSG sempat mengalami koreksi lebih dari 2 persen.

Berdasarkan data RTI yang dipantau pukul 15.44 WIB, IHSG tercatat berada di level 6.523 atau melemah 0,24 persen. Berbeda dengan IHSG, indeks LQ45 justru menguat 1,21 persen ke posisi 657,40.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 6.371,39 hingga 6.543,27. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 470 saham mengalami penurunan, 176 saham menguat, sementara 143 saham lainnya tidak mengalami perubahan.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, mengatakan tekanan jual masih terlihat pada perdagangan hari ini. Namun, kondisi tersebut mulai diimbangi aksi pembelian ketika harga saham berada pada level yang lebih rendah.

“Pergerakan IHSG hingga menjelang penutupan hari ini menunjukkan tekanan jual memang masih dominan, tetapi mulai terjadi recovery atau bargain hunting setelah indeks sempat terkoreksi lebih dari 2%,” kata Nafan.

Menurut dia, faktor eksternal masih menjadi perhatian utama investor. Salah satunya perkembangan konflik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak Brent hingga berada di sekitar US$107 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi secara global. Kondisi itu kemudian memunculkan kekhawatiran bahwa bank sentral dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Situasi tersebut turut mendorong investor untuk mengurangi aset berisiko di pasar negara berkembang. Meski begitu, Nafan melihat pelaku pasar domestik belum menunjukkan kepanikan secara menyeluruh.

“Menurut saya, ada indikasi buy on weakness dan bargain hunting, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sudah mengalami tekanan cukup dalam,” ujarnya.

Di sisi lain, pasar dinilai mulai memperhitungkan sejumlah risiko eksternal yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham. Karena itu, ketika tekanan jual mulai berkurang, IHSG mampu melakukan pemulihan dengan relatif cepat.

Pergerakan tersebut juga tidak terlepas dari kondisi perdagangan pekan sebelumnya. Saat itu, IHSG telah terkoreksi 1,43 persen seiring meningkatnya eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran serta kenaikan harga minyak.

Pergantian Menkeu Jadi Perhatian Investor

Selain sentimen global, pergantian Menteri Keuangan turut menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan hari ini. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara resmi menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan dalam perombakan Kabinet Merah Putih.

Nafan menilai respons awal pasar terhadap pergantian tersebut cenderung positif namun masih terbatas. Menurutnya, posisi Suahasil yang sebelumnya berada di Kementerian Keuangan membuat pasar memiliki gambaran mengenai sosok yang akan melanjutkan kebijakan fiskal.

“Suahasil bukan figur yang sepenuhnya asing bagi pasar karena sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, sehingga kontinuitas kebijakan fiskal relatif lebih mudah dibaca,” tuturnya.

Pasar selanjutnya akan melihat kemampuan pemerintahan dalam menjaga kepastian dan konsistensi kebijakan fiskal. Beberapa hal yang menjadi perhatian mencakup pengelolaan APBN, defisit, penerimaan negara, belanja pemerintah hingga koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter.

Namun, Nafan menegaskan pemulihan IHSG menjelang penutupan tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan pergantian Menteri Keuangan. Sentimen geopolitik serta pergerakan harga minyak masih menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan arah pasar.

Meski demikian, pergantian pejabat di sektor fiskal dapat menjadi penyeimbang terhadap tekanan yang berasal dari faktor eksternal. Jika kebijakan ekonomi ke depan dinilai mampu memperkuat koordinasi dan menjaga disiplin fiskal, sentimen pasar berpotensi membaik.

“Bahkan, apabila pasar menilai kabinet baru mampu memperkuat koordinasi ekonomi dan menjaga disiplin fiskal sekaligus mempercepat stimulus yang produktif, hal tersebut berpotensi menjadi katalis positif lanjutan bagi IHSG,” pungkasnya. (*)

 

Sumber:LIPUTAN 6

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version