DIALEKBORNEO.COM — Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bertata Menata Tertata (BMT) Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengembangkan konsep wisata dengan mengangkat sejarah terbentuknya permukiman masyarakat sekitar 1990.
Sejarah tersebut menjadi bagian awal yang ingin diperkenalkan Pokdarwis BMT sebelum wisatawan diarahkan menikmati sejumlah potensi wisata yang ada di Desa Sangkuliman.
Ketua Pokdarwis BMT Desa Sangkuliman, Rojali, mengatakan sejarah permukiman memiliki cerita yang dapat menjadi identitas bagi pengembangan wisata desa.
Menurutnya, kawasan tersebut terbentuk melalui pembangunan permukiman terpadu yang diperuntukkan bagi masyarakat dari Desa Pela. Program tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan terbentuknya kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Sangkuliman.
“Sekitar 222 rumah dibangun dari program Kementerian Sosial. Dari rumah-rumah itu kemudian menjadi pemukiman desa terpadu,” kata Rojali, Rabu (9/9/2026).
Rojali menjelaskan, masyarakat mulai menempati kawasan tersebut sekitar 1990. Sebelum berkembang menjadi Desa Sangkuliman, kawasan itu dikenal sebagai Pela Baru.
Ia menilai proses perpindahan masyarakat dari Desa Pela memiliki nilai sejarah yang dapat menjadi materi dalam pengembangan wisata. Cerita tersebut dinilai dapat memberikan pemahaman kepada pengunjung mengenai awal terbentuknya kawasan.
“Yang saya angkat itu bukan cuma rumahnya, tapi sejarah perpindahannya. Itu yang menjadi cerita awal untuk wisata Sangkuliman,” ujarnya.
Konsep pengenalan sejarah tersebut akan dikemas melalui storytelling. Dengan cara itu, pengunjung tidak hanya melihat kawasan permukiman, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai proses terbentuknya wilayah tersebut.
Rojali mengatakan penyusunan cerita menjadi penting agar sejarah permukiman memiliki alur yang jelas saat disampaikan kepada wisatawan. Setelah mengenal sejarah kawasan, pengunjung dapat diarahkan menuju sejumlah potensi wisata lainnya.
“Kalau storytelling-nya runtut, orang yang datang bisa tahu kenapa masyarakat bisa berada di sini dan bagaimana awal terbentuknya pemukiman ini,” jelasnya.
Sejumlah potensi kemudian disiapkan sebagai bagian dari rangkaian wisata Sangkuliman, mulai dari Gunung Tallo, Danau Seguntur, luah, Tanjung Rapeh hingga Tanjung Halat.
“Setelah pemukiman itu, baru kita arahkan ke titik-titik lain. Ada Gunung Tallo, Danau Seguntur, luah, kemudian Tanjung Rapeh sampai Tanjung Halat,” katanya.
Dalam pengembangan kawasan tersebut, dukungan sarana juga telah tersedia. Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar membangun panggung pertunjukan di Tanjung Halat yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan wisata.
Selain potensi alam, Pokdarwis BMT juga tengah menggali potensi budaya berupa Pelas Danau. Penggalian dilakukan karena masih terdapat warga yang mengetahui pelaksanaan ritual tersebut.
“Dulu saya angkat budaya Pelas Danau. Orang yang mengetahui ritualnya masih ada satu, jadi informasi itu yang sekarang sedang kami gali,” ungkap Rojali.
Menurutnya, Pelas Danau belum ditetapkan sebagai tujuan wisata karena informasi mengenai ritual tersebut masih terus dikumpulkan. Pokdarwis ingin memastikan cerita dan dasar budaya yang disampaikan kepada wisatawan memiliki sumber yang jelas.
“Pelas Danau belum kami jadikan tujuan wisata, masih kami garap. Kami ingin yang diangkat nanti benar-benar punya cerita dan dasar yang jelas,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan