DIALEKBORNEO.COM – Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah melihat peluang masuknya investasi dalam jumlah besar ke Indonesia dalam beberapa pekan mendatang. Optimisme tersebut disampaikan dengan merujuk pada sejumlah indikator ekonomi dan capaian investasi nasional.
Dalam program “Presiden Prabowo Menjawab” yang dirilis Badan Komunikasi Pemerintah di Jakarta, Rabu, Prabowo menyebut realisasi investasi hingga Juni 2026 telah mencapai Rp1.010 triliun.
Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan aktivitas investasi di Indonesia masih bergerak sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Prabowo juga menyampaikan bahwa realisasi investasi pada 2025 mencapai Rp1.931 triliun. Aktivitas investasi tersebut turut dikaitkan dengan pembukaan lapangan kerja baru sepanjang tahun lalu.
“Pada tahun lalu investasi kita menghasilkan sekitar 2,7 juta lapangan pekerjaan baru. Tahun ini sampai sekarang sudah sekitar 1,4 juta,” ujar Prabowo.
Ia menegaskan angka tersebut merupakan hasil dari kegiatan investasi yang masuk ke Indonesia, bukan lapangan pekerjaan yang secara langsung diciptakan melalui program pemerintah.
Keyakinan mengenai prospek investasi ke depan, lanjut Prabowo, salah satunya diperoleh dari pertemuannya dengan sejumlah pelaku usaha besar internasional. Dalam pertemuan tersebut, para pelaku usaha disebut memberikan perhatian terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Prabowo mengatakan kondisi ekonomi makro menjadi salah satu pertimbangan yang membuat investor melihat Indonesia sebagai tujuan penanaman modal.
“Dari pertemuan dengan sejumlah investor besar, saya menangkap adanya kepercayaan terhadap kondisi ekonomi Indonesia,” katanya.
Selain capaian investasi, Prabowo menyoroti sejumlah indikator makroekonomi. Salah satunya tingkat inflasi yang disebut berada pada level 2,92 persen.
Ia juga menyampaikan kondisi rasio utang dan defisit Indonesia yang menurutnya masih berada dalam batas yang relatif terkendali. Untuk defisit, Prabowo menyebut Indonesia masih berada di bawah batas 3 persen.
Sebagai perbandingan, ia menyebut defisit Filipina berada di kisaran 6 persen, India sekitar 4,6 persen, sedangkan Prancis mencapai sekitar 5,4 persen.
Menurut Prabowo, kondisi tersebut menjadi bagian dari alasan pemerintah tetap melihat peluang pertumbuhan ekonomi dan investasi dalam jangka panjang.
“Dengan berbagai indikator tersebut, kami melihat kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia masih cukup kuat,” ucapnya.
Presiden juga mengaitkan prospek investasi dengan potensi Indonesia dalam perekonomian global. Ia merujuk pada proyeksi Goldman Sachs yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi menjadi ekonomi terbesar dunia pada 2050.
Prabowo menyebut posisi tersebut menunjukkan besarnya peluang ekonomi Indonesia dalam jangka panjang, terutama jika pertumbuhan dan stabilitas ekonomi dapat terus dipertahankan.
Ia pun memperkirakan arus investasi yang lebih besar masih akan masuk ke Indonesia dalam waktu dekat. Namun, rincian mengenai investasi yang dimaksud belum disampaikan dalam pernyataan tersebut.
“Dalam beberapa minggu ke depan, saya kira akan ada investasi besar yang masuk. Kita tunggu saja,” pungkas Prabowo. (*)
Sumber:ANTARANEWS.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan