Rabu , 7 Oktober 2026

Ziarah ke Makam Aji Imbut, Pemkab Kukar Kenang Perjalanan Panjang Kota Tenggarong

DIALEKBORNEO.COM – Sebelum berbicara tentang bagaimana Tenggarong akan berkembang di masa depan, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengajak masyarakat untuk kembali melihat jejak yang menjadi awal lahirnya Kota Raja.

Jejak tersebut dikenang melalui kegiatan ziarah ke makam Aji Imbut dan makam para raja Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong, Senin (28/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang tokoh yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Tenggarong sekaligus merefleksikan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri melalui Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan ziarah tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial dalam rangka memperingati hari jadi kota.

“Ziarah ini menjadi momentum bagi kita untuk mengingat kembali dari mana Kota Tenggarong berasal. Kita mengenang para pendahulu sekaligus memahami nilai-nilai yang telah diwariskan kepada generasi saat ini,” ujarnya saat membacakan sambutan Bupati Kukar.

Nama Aji Imbut memiliki tempat penting dalam sejarah berdirinya Tenggarong. Pada 28 September 1782, Sultan Aji Muhammad Muslihuddin atau Aji Imbut memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura dari Pemarangan ke Tepian Pandan.

“Pada 28 September 1782, Aji Imbut memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura dari Pemarangan ke Tepian Pandan. Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah berdirinya Kota Tenggarong,” katanya.

Tepian Pandan kemudian dikenal dengan nama Tangga Arung yang memiliki arti rumah raja. Dari kawasan tersebut, perjalanan Tenggarong terus berkembang hingga menjadi pusat pemerintahan kesultanan dan bagian penting dari kehidupan masyarakat Kutai.

“Tepian Pandan kemudian menjadi Tangga Arung, yang bermakna rumah raja, dan dalam perjalanan sejarah berkembang menjadi Tenggarong. Dari sinilah perjalanan panjang Kota Tenggarong sebagai pusat pemerintahan dan peradaban Kutai terus berlangsung,” ungkapnya.

Bagi Pemkab Kukar, perjalanan tersebut tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Perkembangan Tenggarong selama 244 tahun dinilai menyimpan nilai yang perlu dipahami oleh generasi sekarang sebelum menentukan arah pembangunan kota pada masa depan.

“Ketika kita berbicara tentang hari jadi Tenggarong, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang perjalanan sebuah peradaban. Kita berbicara tentang sejarah, kebudayaan, kehidupan masyarakat dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi,” tuturnya.

Karena itu, peringatan hari jadi tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang masa lalu. Momentum tersebut juga digunakan untuk memperkuat komitmen membangun Tenggarong sebagai kota yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

“Tenggarong harus terus berkembang, tetapi perkembangan itu tidak boleh membuat kita kehilangan akar sejarah dan budaya. Kita ingin membangun kota yang modern, namun tetap memiliki identitas sebagai Kota Raja,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembangunan ke depan harus mempertemukan kebutuhan modern dengan kekayaan sejarah yang dimiliki Tenggarong. Kawasan bersejarah, tradisi Kesultanan, budaya Kutai dan ruang-ruang publik perlu tetap mendapat perhatian dalam perkembangan kota.

“Sejarah dan modernitas harus berjalan bersama. Kita ingin Tenggarong maju tanpa meninggalkan budayanya, berkembang tanpa kehilangan identitasnya, dan menjadi kota modern yang tetap menunjukkan wajah sejarahnya,” tegasnya.

Menurutnya, setiap generasi memiliki tanggung jawab dalam meneruskan perjalanan yang telah dimulai oleh para pendahulu. Jika Aji Imbut membuka babak baru dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Tepian Pandan, maka generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan pembangunan Tenggarong.

“Setiap generasi memiliki tanggung jawab sejarahnya masing-masing. Aji Imbut memiliki keberanian untuk membuka babak baru dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Tepian Pandan. Para Sultan setelahnya melanjutkan pembangunan dan memperkuat peradaban Tenggarong. Kini giliran kita,” pungkasnya.

About adminDB

Check Also

Program RT Ku Terbaik Dikoreksi Jadi Rp50 Juta, Penyaluran Mulai Oktober 2026

DIALEKBORNEO.COM – Waktu pelaksanaan Program RT Ku Terbaik di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) semakin terbatas. Memasuki …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *