DIALEKBORNEO.COM – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu pagi tercatat melemah 37 poin atau sekitar 0,21 persen menjadi Rp17.743 per dolar Amerika Serikat dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.706 per dolar AS. Indonesia
Kepala Ekonom permatabank.com�, Josua Pardede, menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve System yang diperkirakan tetap cenderung ketat (hawkish).
Menurutnya, pelaku pasar masih menempatkan perhatian besar pada kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama di Amerika Serikat, sehingga memicu penguatan dolar dan memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dinamika tersebut juga tercermin dari pasar obligasi AS.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun tercatat meningkat hingga 4,67 persen, sementara tenor jangka panjang mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Tekanan di pasar domestik turut terlihat dari pergerakan IHSG yang sempat terkoreksi 3,46 persen. Kondisi itu dipengaruhi aksi jual investor setelah keputusan msci.com� melakukan penyesuaian komposisi indeks pada pekan sebelumnya.
Selain faktor eksternal, pasar juga menunggu keputusan suku bunga dari bi.go.id� untuk periode Mei 2026.
Josua memperkirakan bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar.
Sejauh ini, rupiah tercatat telah mengalami pelemahan sekitar 5,73 persen secara year to date hingga 19 Mei 2026.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS. (*)
