DIALEKBORNEO.COM – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menanggapi wacana perubahan posisi gerbong khusus perempuan dalam rangkaian kereta.
Ia menilai, prioritas utama pemerintah saat ini adalah peningkatan aspek keselamatan transportasi publik, bukan semata soal pembagian berdasarkan gender.
Pernyataan tersebut disampaikan AHY saat berada di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4), menyusul insiden kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di wilayah Bekasi Timur.
“Yang harus menjadi perhatian kita adalah bagaimana sistem transportasi ini benar-benar aman, memberikan rasa nyaman bagi seluruh penumpang, tanpa terkecuali,” ujarnya.
Menurut AHY, kejadian tersebut menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk pada fasilitas dan tata letak gerbong yang selama ini diterapkan.
Ia juga menyoroti fakta bahwa gerbong yang selama ini diperuntukkan bagi kelompok rentan justru terdampak dalam insiden tersebut.
Hal ini, kata dia, akan menjadi bagian penting dalam proses evaluasi ke depan.“Semua aspek akan kita kaji ulang, termasuk penempatan gerbong, agar ke depan risiko bisa diminimalkan,” tambahnya.
Lebih lanjut, AHY memastikan pemerintah telah meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan investigasi secara komprehensif dan transparan.Ia berharap hasil penyelidikan tidak hanya mengungkap penyebab kecelakaan, tetapi juga menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat luas.
“Kita ingin proses ini terbuka, sehingga publik memahami apa yang terjadi dan bagaimana langkah perbaikannya,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi mengusulkan agar gerbong khusus perempuan ditempatkan di bagian tengah rangkaian kereta. Usulan tersebut muncul setelah insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur.
Arifah menilai, penempatan di tengah dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan keamanan penumpang perempuan, sementara gerbong di bagian depan dan belakang dapat diperuntukkan bagi penumpang laki-laki.
Hingga kini, pemerintah masih menunggu hasil investigasi resmi sebelum mengambil kebijakan lanjutan terkait sistem operasional dan keselamatan transportasi kereta api. (*)
